menghidupkan Klab Jelajah Bandung : menuju Sanghyang Heuleut

 

img_20180414_084519_hdr-1-1114158536.jpg

Beberapa tahun silam, di sebuah Pertemuan Orangtua Smipa, sempat dibicarakan banyak gagasan tentang KlAB Smipa – Kelompok Aktivitas Bersama di Rumah Belajar Semi Palar. Ruang-ruang kegiatan yang bisa mewadahi minat kita sama-sama (anak, orangtua dan para kakak) untuk bisa beraktivitas, saling belajar dan membangun koneksi. Salah satu yang saat itu digagas adalah Klab Jelajah Bandung – sesuai namanya untuk kita yang senang kaditu-kadieu berkeliling tempat-tempat di dalam dan sekitar kota Bandung. Baik dalam bentuk ngaleut, hiking, trekking, jalan malam atau apapun bentuknya.

Dua tahun silam, sempat juga digagas JJS (Jalan Jauh Smipa) – mengusung semangat yang sama. Beberapa dari kita enam orang tepatnya – diwakili anak, orangtua dan kakak – sudah sempat melakukan survey dan ujicoba. Berjalan kaki 17 kilometer tepatnya dari Semi Palar di Bandung ke satu lokasi di Wilayah Utara kota Bandung. Karena kondisi yang tidak menentu, JJS tidak jadi digelar.

Beberapa minggu lalu, di grup JJS muncul ajakan untuk menghidupkan kembali KlAB ini. Secara spontan, kami bersepakat untuk mulai duluan – dengan spirit “hayu lah, kita aja jalan duluan!” Dari beberapa tujuan, disepakati kita akan menengok Sanghyang Heuleut, berlokasi di bagian barat Bandung, bagian dari aliran Sungai Citarum Purba di sekitar Waduk Saguling. Tempat ini menarik karena bagian dari fenomena geologi saat terbentuknya cekungan Bandung, satu rangkaian dengan tempat-tempat yang sudah banyak dikenal seperti Sanghyang Poek dan Sanghyang Tikoro. Awalnya peserta yang akan ikut berjumlah 12 orang – akhirnya Sabtu lalu tanggal 14 April, rombongan berangkat dengan jumlah 9 orang – 3 kakak, 3 orangtua, satu orang anak dan dua orang teman pendamping yang menemani kami ke tujuan.

 

img_20180414_193211649046749.jpg
O iya ada kak Lyn yang mengambil gambar ini 🙂

Perjalanan dari Bandung ke Saguling makan waktu sekitar 90 menit, kemudian dari area parkir ke Sanghyang Heuleut juga kira2 makan waktu 90 menit. Setiba di lokasi kami disuguhi panorama luar biasa Sanghyang Heuleut. Beberapa dari kami segera nyebur ke kolam2 yang ada di sana. Beberapa waktu kami menikmati fenomena alam luar biasa yang ada di sana. Sekitar pukul 11 kamipun beranjak kembali ke arah tempat kendaraan diparkir. Dalam perjalanan pulang kamipun makan siang bersama di rumah makan Sunda – ditemani Sambal Honje spesial yang dibuat malam sebelumnya dan dibawa Irvan spesial untuk perjalanan kali ini. Makan siang yang luar biasa nikmat. 🙂

Perjalanan ke tempat2 seperti ini memang melelahkan secara fisik, tapi sangat mengisi diri kita secara emosional dan spiritual. Lewat perjalanan-perjalanan seperti inilah diri kita sebagai manusia diutuhkan kembali karena kita adalah bagian dari alam semesta yang jembar ini. Saat melakukannya bersama dengan teman-teman seperjalanan, kita juga membangun koneksi kita satu sama lain sebagai manusia. Hal-hal semacam inilah yang mengutuhkan perjalanan hidup kita di dunia modern di mana segala sesuatu sudah serba terdiskoneksi. Terima kasih buat semua teman2 perjalanan ke Sanghyang Heuleut kemarin. Terima kasih secara khusus buat teman kecil Azwa yang membuat suasana sepanjang perjalanan menjadi riang gembira :).

Di bawah ini beberapa cuplikan rekaman foto yang dari perjalanan kami. Sekedar teaser dan tentunya undangan untuk bergabung ke perjalanan2 selanjutnya.

This slideshow requires JavaScript.

Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya.


Untuk memudahkan komunikasi, silakan bergabung ke grup WhatsApp Jelajah Bandung melalui tautan di bawah ini. Catatan, grup WA ini terbatas hanya untuk keluarga besar Rumah Belajar Semi Palar.

WhatsApp_logo
klik / tap untuk gabung Grup WA Jelajah Bandung

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *